Showing posts with label music review. Show all posts
Showing posts with label music review. Show all posts

Sunday, October 12, 2008

Jatuh Cinta Lagi...

Daniel Powter yang selalu bisa membuat saya jatuh cinta (Hmmm... enaknya jatuh cinta hahaha..) Bagaimana tidak?! Semua lagu yang pernah dia buat selalu dengan nada-nada yang manis dan mudah didengar. Belum lagi setiap dentingan tuts piano ala Daniel Powter yang kata anak zaman sekarang sih, “Daniel Powter banget gitu”. Masih ingat album lalu yaitu album pertama Daniel Powter berjudul Daniel Powter yang sempat tenar dengan hit singlenya “Bad Day”, dari lagu itulah saya mengenal musik Daniel Powter yang sederhana tapi di lain pihak kaya akan rasa baru namun tetap dengan prinsip enak didengar. Beberapa fakta tentang Daniel Powter yang pada waktu masih anak-anak mengaku tidak bisa membaca not balok ternyata tidak sekalipun menyebutkan kata love dalam semua lagu di album pertamanya. Bisa ya, padahal ada lagu-lagu tentang kisah cinta tapi Daniel Powter bisa mengganti kata love dengan kata lain yang tentu saja mendeskripsikan hal yang sama yaitu cinta. Sampai-sampai dia harus menerima tantangan pasar untuk menciptakan lagu yang memuat kata love. Beberapa bulan berikutnya Daniel Powter mengeluarkan repackaged album Daniel Powter dengan tambahan lagu “Love You Lately”. Barulah ada kata love dalam albumnya. Single terbaru Daniel Powter yang sudah saya dengar kalau tidak salah judulnya “Next Plane Home”. Lagu Daniel Powter ala Amerika banget...

Friday, September 26, 2008

Fenomena Lagu Daur Ulang

Fenomena yang sering menjadi tren di dunia musik adalah pendaurulangan sebuah lagu. Dulu mungkin kita sering mendengarkan lagu-lagu lama dinyanyikan ulang oleh artis baru namun dengan cara yang berbeda tujuannya adalah untuk menarik para pendengar. Namun sekarang entah mengapa lagu-lagu yang baru “ngebooming” sudah dinyanyikan ulang oleh artis lainnya. Contohnya Westlife yang memang terkenal dengan hobi mereka mendaur ulang sebuah lagu, menyanyikan ulang lagu You Raise Me Up yang dipopulerkan oleh Josh Groban notabene lagu ini juga lagu lama yang dinyanyikan ulang oleh Josh groban namun menjadi hit dan lagu Home milik Michael Buble. Sayangnya, lagu-lagu tersebut dibawakan ulang dengan style yang tidak jauh berbeda dari versi aslinya.

Anda kenal Rihanna? Tentu dengan lagu Umbrellanya yang diperdengarkan di akhir 2007 dan awal tahun 2008. Lagu itu pun tidak ketinggalan didaur ulang oleh Marie Digby dengan versi akustiknya. Lagu Rihanna berjudul Don’t Stop The Music pun dibawakan ulang dengan style soul. Lagu Leona Lewis yang berjudul Bleeding in Love tak ketinggalan dinyanyikan ulang padahal lagu ini tergolong baru. Duffy seorang penyanyi pendatang baru dari Inggris mengeluarkan single pertama berjudul Mercy dan di daur ulang juga oleh band yang juga tergolong baru di dunia musik Amerika yaitu One Republic.

Rupanya pihak-pihak tersebut mencari peruntungan dari lagu-lagu yang sempat menjadi hit di banyak tangga lagu. Lagu-lagu tersebut dibawakan dengan versi yang benar-benar baru tapi ada juga yang serupa dengan yang terdahulu. Berharap keberuntungan dan ketenaran itu juga menghampiri mereka.

Friday, September 5, 2008

Ciamik dan Unik

Adhitia Sofyan. Bisa dikatakan Adhitia Sofyan termasuk dalam kategori seorang musisi yang meskipun tidak menghabiskan seluruh waktunya di dunia musik. Dia menyebut dirinya sebagai “musisi kantoran” (seorang musisi yang juga kerja di kantor). Dia mengaku mulai belajar musik sejak umur 14 tahun. Darah seninya diturunkan dari sang ibu yang juga menjadi pengajar di Yayasan Musik Indonesia.

Sejak pertama kali saya mendengarkan single yang dipopulerkan oleh Adhitia, jujur saya langsung jatuh hati. Permainan musiknya begitu manis, ciamik dan unik. Lagu pertama yang saya dengar lewat salah satu stasiun radio, berjudul “Adelaide’s Sky”. Saya langsung terpukau dengan setiap petikan gitar akustiknya. Jarang ada jenis musik seperti ini di mainstream musik Indonesia khususnya untuk saat ini. Mungkin karena pasar belum menginginkan jenis musik macam ini. Tak ayal para musisi yang ingin memasuki major label pun enggan mengambil risiko.
Menurut pendapat saya, setiap kali mendengar Adhitia memainkan lagu-lagunya saya seperti mendengar jenis musik yang dimainkan oleh John Mayer, Jack Johnson, Landon Pigg ataupun Kings of Convenience yang kental dengan petikan gitar akustik. Karena tidak dikejar target materi dan hanya ingin agar musiknya didengar oleh orang lain, Adhitia memilih untuk menjauh dari mainstream musik Indonesia dan bermain musik sesuai kata hatinya.

Tidak hanya “Adelaide’s Sky”, ternyata lagu “Memilihmu” juga tergolong unik bahkan mulai dari lirik. Lihat saja potongan lirik lagu tersebut berikut ini:
Memilihmu penuh kesiapan dan mental
Bagai memilih masuk ke sekolah unggulan
Memilihmu bisa makan waktu yang panjang
Satpam depan suruh aku ambil nomor tunggu
Aku tak pernah jadi murid yang terpandai
Menunggu lama s’lalu membuatku bosan
Dan bawa pergi mimpiku berlalu

Satu hal lagi yang saya sukai adalah dia sempat memainkan jingle Putuss (salah satu acara di Pramborsfm) dengan gaya bermusiknya sendiri yang membuat jingle tersebut terdengar sangat manis. Sampai saat ini bisa dikatakan jingle Putuss favorit saya adalah ya versi Adhitia Sofyan.

Friday, August 15, 2008

Masih berminat?

Apakah anda penyuka film musikal? Baru-baru ini saya menonton 3 film yang bersifat musikal dalam artian selain memang genrenya musikal di sisi lain juga menunjukkan kehidupan pemusik. Tanpa sengaja saya membeli DVD berjudul P.S I Love You, Once dan August Rush. Tanpa sengaja pula ketiga film ini memiliki satu benang merah yaitu menceritakan kehidupan seorang pemusik asal Irlandia, sebuah negara di sebelah barat Inggris yang beribukota di Dublin. Kalau dulu anda penggemar berat boysband Westlife, Boyzone pasti anda tidak asing dengan negara tersebut. Jika anda pemusik sejati dan sekarang tengah berjuang untuk menembus major label saya sarankan anda untuk menonton Once.

Apakah anda pernah mendengar grup band asal Indonesia bernama Efek Rumah Kaca?Band ini membuat lagu dari kenyataan industri musik indie dan major label berjudul Cinta Melulu. Mengapa banyak grup band yang bagus dalam bermusik tidak mau menembus major label salah satunya Efek Rumah Kaca?Karena menurut mereka jika memasuki major label semua musik yang mereka hasilkan harus sesuai dengan tuntutan pasar dan mereka terkadang melupakan ideologi bermusik mereka pada mulanya karena bayaran major label seakan memberi tuntutan pada mereka untuk bermusik seturut kemauan major label yaitu sesuai tuntutan pasar yang mayoritas berwarna sama yaitu cinta melulu. Jika saya menyangkutkan dengan mata kuliah Organizational Behavior yang sedang saya ambil di semester ini, kasus tersebut sesuai dengan salah satu konsep contemporary motivation concept yaitu Cognitive Evaluation Theory. Cognitive evaluation theory adalah teori yang menyatakan bahwa dengan mengalokasikan rewards ekstrinsik (segala reward yang didapat dari major label) untuk perilaku yang tadi hanya memperoleh rewards secara intrinsik (kepuasan bermusik sesuai ideologis bermusik) malah cenderung menurunkan keseluruhan tingkat motivasi. Sesuai teori ini, menembus major label bagi band seperti Efek Rumah Kaca malah akan menurunkan motivasi para pemusik indie tadi yang menembus major label karena berdasarkan teori tersebut apabila pemusik tersebut tidak dibayar maka dia punya kontrol penuh untuk bermusik sesuai keinginan mereka tapi jika dia dikontrak oleh major label dan dibayar seakan-akan diatur oleh major label tersebut (self control menurun).

Cobalah sekali-kali untuk mendengarkan lagu-lagu dari band-band indie yang pasti akan memberikan warna baru di telinga anda. Saya sudah mencoba menikmati potensi bermusik band-band indie negeri ini yang juga tidak kalah bagus dibandingkan band-band major label malah banyak yang lebih baik. Banyak juga band-band major label yang hanya menghasilkan one hit wonder, after that? GONE. Saya sering mendengarkan musik band-band indie tersebut di salah satu stasiun radio di Jakarta dan anda tahu apa yang saya lakukan saat mendengar cara mereka bermusik, saya berdecak kagum ckckckc, kata-kata GILA KEREN BANGET!!tak henti-hentinya terlontar dari mulut saya. Banyak band-band tersebut yang juga membawakan musik mereka dalam bahasa Inggris dan hasilnya apa?Dari beberapa yang pernah saya dengarkan saya berani jamin mereka bermain sekelas Kings of Convenience dan Interpol. Itulah sekilas keadaan umum pemusik indie negeri ini. Masih berminat menembus major label?  

Thursday, July 10, 2008

Stuck In My Head

Pernah merasakan keadaan dimana kepala penuh dengan sesuatu yang terus berdengung ga jelas? Itulah yang sedang gue rasakan beberapa hari ini. Setelah ditilik lebih teliti dan seksama ternyata salah satu lagu mas ganteng yang satu ini ngestuck di kepala gue terhitung hampir berhari-hari. Lagunya berjudul "Falling in Love at The a Coffee Shop". Menyadari betapa dia jangkung, cungkring nan sangat rupawan, bisa-bisa gue nih yang falling in love. Lagunya tipe-tipe relaxing, sweet, easy listening. Obviously it feels good to my ears.

Landon Pigg
Coffee Shop lyrics

I think that possibly, maybe I'm fallin' for you
Yes, there's a chance that I've fallen quite hard over you
I've seen the paths that your eyes wander down
I wanna come to
I think that possibly, maybe I'm fallin' for you

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew
I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I think that possibly, maybe I'm fallin' for you
Yes, there's a chance that I've fallen quite hard over you
I've seen the waters that make your eyes shine
Now I'm shinin' too
Because, oh because, I've fallen quite hard over you

If I didn't know you, I'd rather not know
If I couldn't have you, I'd rather be alone

I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew
I never knew just what it was
About this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew
All of the while
All of the while
It was you