Showing posts with label politics. Show all posts
Showing posts with label politics. Show all posts

Sunday, October 12, 2008

Anak Menteng Mengubah Amerika

Saya sebagai orang Indonesia merasa malu dan miris setiap kali membaca ungkapan ini. Televisi lebih spesifik saluran televisi swasta yang memaksa saya membaca dan mendengarkan ungkapan tersebut setiap kali mereka memperbincangkan calon presiden Amerika dari kubu Demokrat ini yaitu Barack Obama.
Indonesia, bangsa yang terus mencari eksistensi negeri dengan mengaitkan dirinya dengan nama besar tertentu, padahal bangsa ini tidak turut ambil bagian dalam memperbesar nama tersebut. Apalah arti tinggal kurang lebih 2 tahun di Menteng pada kontribusi berpolitik Barack Obama? Belum lagi saat tinggal di Menteng Barack Obama pun masih berusia sangat muda. Betapa hal ini menurut saya menunjukkan sikap minder Indonesia akan pandangan dunia terhadap dirinya. Inilah bangsa kita, bangsa yang mudah berbangga diri. Bangsa yang belum mampu menciptakan kebanggaannya sendiri sampai harus menumpang ketenaran orang lain.

Friday, August 29, 2008

Nuklir untuk Kemanusiaan?

Isu rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) telah lama mengundang pro dan kontra dari banyak pihak. Ide pembangunan PLTN sebenarnya telah lama dirancang oleh pemerintah bahkan sejak zaman Presiden Soekarno. Pada masa itu telah ada penelitian yang dilakukan untuk membangun PLTN. Namun pada saat harga minyak dunia melonjak naik, banyak negara-negara di dunia tidak terkecuali Indonesia mulai mencari energi lain selain minyak bumi atau batubara untuk memenuhi kebutuhan energi negara mereka. Lantas nuklir menjadi salah satu alternatif yang dicetuskan oleh pemerintah kita. Rupanya energi terbarukan seperti sinar matahari, angin, dan air yang cukup melimpah di Indonesia belum lagi biomassa dan panas bumi dianggap belum mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar. Masalah lingkungan pun sekarang harus dihadapi akibat penggunaan batubara.

PLTN dihasilkan dari reaktor nuklir pengayaan uranium. Untuk memproduksi listrik 2.000 MW, misalnya, hanya dibutuhkan uranium dengan berat sekitar 2 kg, dan dalam siklus penggunaan yang panjang, yaitu 1,5 tahun (Khairul Handono, Bisnis Indonesia). Ektremnya 1 gram uranium dipercaya dapat menyalakan televisi yang kira-kira menghabiskan 100 watt selama 7 tahun. Siapa pula yang mau melihat televisi terus-menerus selama 7 tahun?

Jika melihat kesuksesan negara-negara yang menggunakan PLTN untuk memenuhi kebutuhan energinya seperti Amerika, Jepang, Australia, Korea Selatan bahkan Korea Utara nampaknya Indonesia pun ingin mencoba dan mengalami hal yang sama. Tidak hanya Indonesia yang tergiur akan penggunaan uranium ini tapi juga Cina sudah mulai menggiatkan pembangunan PLTN mereka. Karena selain mendapatkan energi, pemanfaatan reaktor nuklir dimanfaatkan untuk mengurangi udara kotor negara mereka. Batu bara ini pula yang telah mengotori udara di Cina. Pantaslah jika 16 dari 20 kota terpopulasi dunia berada di Cina. Negara ini pun mulai melakukan kerjasama dengan Australia dalam pemenuhan kebutuhan uranium.

Australia merupakan negara penghasil uranium terbesar. Tercatat kontribusi negara benua ini dalam produksi uranium sekitar 40% dari total produksi uranium dunia. Dalam bukunya yang berjudul Asia Future Shock, Michael Backman juga meramalkan bahwa Asia akan menjadi rumah bagi setengah reaktor nuklir dunia. Jadi jika nuklir mulai naik daun maka posisi strategis negara-negara dunia Arab yang menguasai minyak bumi akan berpindah kepada negara-negara penghasil uranium yang notabene mayoritas adalah negara-negara Barat. Sebenarnya Indonesia juga memiliki sumber daya ini namun belum secara total digarap. Jangan sampai uranium ini memiliki nasib yang sama dengan emas kita di Papua.

Selain melihat sisi keberhasilan PLTN, kita juga harus menilik lagi apakah nuklir cocok dengan alam Indonesia. PLTN ini rencananya akan dibangun di Pulau Jawa. Sempat tercetus PLTN akan dibangun di Semenanjung Muria dan daerah Lemahabang. Pulau Jawa merupakan pulau dengan populasi terbanyak di Indonesia yang pastinya membutuhkan energi yang lebih besar daripada pulau lainnya. Namun yang menjadi masalah adalah Pulau Jawa rawan dengan bencana alam seperti gempa bumi yang diyakini dapat menyebabkan radiasi. Kita pasti belum lupa peristiwa kebocoran radioaktif reaktor bertenaga nuklir di pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kashiwasaki-Kariwa akibat gempa bumi berkekuatan 6,8 skala richter. Meskipun mungkin di letakkan di daerah yang jauh dari gunung berapi yang masih aktif sekalipun, perlu diingat bahwa Indonesia merupakan tempat bertemunya 3 lempeng dunia yaitu Indoaustralia, Eurasia dan Pasifik yang sanggup menggoncangkan Indonesia saat mereka bertabrakkan. Biaya pun akan lebih banyak jika PLTN dibangun di luar Pulau Jawa karena harus menyalurkan listrik ke Pulau Jawa.

Walaupun pemerintah Indonesia sudah meyakinkan warga negaranya bahkan proyek pembangunan ini aman namun saya pribadi pun masih ragu Indonesia sudah siap dengan PLTN. Penyelewengan masih akan terjadi. Masalah tidak hanya pada penguasaan teknologi namun kita tahu korupsi (mentally disorder) sudah mendarah daging. Seperti ungkapan Georges Pompidou:
Negarawan adalah politisi yang menempatkan dirinya dalam pelayanan kepada bangsa sedangkan politisi adalah negarawan yang menempatkan bangsa dalam pelayanan kepada dirinya”.
Lewat penjelasan tersebut kita bisa memilih apakah wakil rakyat kita “terhormat” merupakan negarawan atau politisi. Penyelewengan yang sering terjadi salah satunya dapat berupa penggelembungan biaya yang dilakukan namun barang yang didapat kualitasnya berada jauh di bawah biaya yang harus dikeluarkan. Pengoperasian PLTN berkaitan langsung dengan nyawa banyak orang. Pemerintah harus ingat itu!

Korea Utara pun menggunakan PLTN untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Penggunaan PLTN di Korut mungkin juga karena didukung oleh pemerintahan yang otoriter dan militeris. Ternyata pengoperasian reaktor nuklir bagi pemenuhan energi negara ini belum sepenuhnya sukses. Power tends to corrupt but absolute power tends to corrupt absolutely. Itulah yang terjadi di Korut. Jika dilakukan pemindaian pada malam hari akan terlihat perbedaan yang cukup besar antara Korsel yang terang benderang dan Korut tergolong yang gelap jika dibandingkan dengan Korsel. Mungkin hanya kota Pyongyang yang sepenuhnya bisa menikmati malam dengan listrik. Rupanya keberadaan PLTN pun belum mampu memenuhi kebutuhan warga Korut akan listrik.

Masih ada kemungkinan ancaman lain yang bisa saja terjadi yaitu ancaman invasi dari negara yang mengaku adikuasa yang berlaku layaknya polisi dunia menyerang sebuah negara karena alasan pengayaan uranium tersebut digunakan untuk keperluan militer. Apakah Indonesia bisa menyakinkan “polisi dunia” tersebut bahwa tujuan pengayaan uranium ini adalah untuk kemanusiaan? Ataukah alasan reaktor nuklir bagi pemenuhan energi negara ini hanyalah sebuah rekayasa untuk menciptakan ladang baru guna mengeruk uang dan memperkaya segelintir orang yang berkuasa?

Monday, August 11, 2008

Selama Ini Ngapain Aja?

Negara kita sedang rame-ramenya melakukan persiapan menyambut pesta demokrasi. Fenomena yang muncul adalah banyakya lowongan terbuka bagi semua warga negara Indonesia untuk mendaftar menjadi caleg partai-partai yang ikut dalam pemiliu 2009. Heran deh semua serba instan memang apa aja sih kerjaan partai-partai ini tahun-tahun kemarin. Bukan hanya jadi artis saja bisa instan, politisi juga. Sejatinya, kaderisasi partai-partai tersebut harus dibina dengan baik. Ada salah satu partai yang bahkan mengundang para petani untuk mendaftar menjadi caleg. Alasan mereka sih agar aspirasi para petani ini nantinya tersuarakan. Ya bukan bermaksud memarjinalkan para petani dan bukan berarti mereka tidak boleh dipilih. Sebagai warga negara Indonesia mereka punya hak kok untuk dipilih. Tapi apa tidak dipikirkan nasib mereka selanjutnya bisa jadi bulan-bulanan di parlemen kita? Belum lagi jika mereka sudah merasakan enaknya kursi DPR atau DPRD. Bukankah politik seharusnya dimulai dari bawah layaknya politik akar rumput. Dimana para politisi tersebut seharusnya mengerti seperti apa seharusnya dia bertindak menyuarakan aspirasi yang sesungguhnya. Seperti kata Bung Hatta menyelam untuk mengambil aspirasi yang tersumbat di bawah.