Showing posts with label social. Show all posts
Showing posts with label social. Show all posts

Monday, November 24, 2008

Untitled Part 2




Saat saya hanya bisa mengomentari keadaan para veteran kemerdekaan kita, pemuda/pemudi lainnya sudah mampu secara nyata menunjukkan kepedulian dan penghargaan mereka kepada para veteran. Seharusnya saya malu (I get a lesson to practice what I preach!).

Thursday, November 13, 2008

Untitled

Beberapa hari yang lalu saya terlibat perbincangan dengan kakak saya. Seperti biasa bila saya dan kakak saya kumpul maka yang terjadi adalah sebuah perbincangan yang tidak penting dan terkesan aimless conversation. Pembicaraan dibuka dengan membahas bahasa Indonesia yang memiliki padanan kata dengan bahasa Malaysia yang aneh tapi nyata. Seperti rumah sakit bersalin (Indonesia) sama dengan rumah sakit korban lelaki (Malaysia); tiarap (Indonesia) sama dengan bersetubuh dengan bumi (Malaysia) dan purnawirawan (Indonesia) sama dengan laskar-laskar tak berguna (Malaysia). Dan pecahlah tawa dia antara kami.

Lantas tawa pun hilang ketika saya membaca berita tentang para veteran kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Jombang menuntut hak mereka berupa tunjangan dana kehormatan. Hal yang membuat miris adalah mereka mengaku harus memberikan surat keterangan miskin untuk mendapatkan dana tunjangan tersebut dan tidak akan mendapatkan tunjangan tersebut jika sudah mendapat pensiun. Terlintas di benak saya adalah orang-orang lanjut usia, yang mungkin setua kakek saya, masih harus berjuang untuk mendapatkan hak mereka.

Apakah dengan berlalunya masa perjuangan kemerdekaan maka para veteran tersebut dianggap sebagai "laskar-laskar tak berguna" sampai-sampai hak mereka pun sulit untuk didapatkan??

Ataukah perjuangan yang mereka lakukan etisnya tidak mengandung pamrih di dalamnya??

Monday, November 3, 2008

Sadarkan Mereka...

UTS telah usai, satu beban terlepas sudah. Senang rasanya. Seperti biasa saya pulang ke rumah menjelang akhir pekan. Tanpa sengaja dalam perjalanan pulang saya bertemu dengan seseorang yang sekarang sedang menyusun thesis pada program pascasarjana FEUI. Dia bekerja di Departemen Perdagangan. Dia masuk dalam kelas khusus yang semua murid terdiri dari para pegawai departemen perdagangan sekitar 40 orang belum lagi sekitar 23 orang yang berada di program MPKP. Ya benar, semua biaya sekolah para pegawai ini ditanggung oleh Departemen Perdagangan. Berikut tunjangan yang mereka dapatkan:
1. Semua biaya kuliah selama 1,5 tahun (program khusus yang dipadatkan) ditanggung oleh Departemen Perdagangan.
2. Adanya uang saku sebesar nilai gaji satu bulan yang diberikan tiap bulan.
3. Buku gratis, bahkan sempat seorang suami istri kenalannya menjual buku-buku tersebut seharga Rp 400.000/buku karena sang istri cukup menggunakan buku bekas suaminya.
4. Adanya uang saku tambahan bagi mereka yang sedang menyusun thesis karena mereka membutuhkan dana untuk membeli data dan membiayai keperluan thesis lainnya.
5. Belum lagi rencana Departemen Perdagangan yang akan menyekolahkan mereka hingga S3 karena para atasan di departemen banyak yang akan pensiun. Merekalah yang nantinya harus menggantikan jabatan-jabatan kosong tersebut.
6. Yang lebih membuat heran lagi adalah mereka tetap menerima gaji mereka tiap bulan meskipun mereka tidak bekerja.

Gambaran diatas membuat saya berkata dalam hati, “No wonder kalau masih banyak orang berduyun-duyun ingin menjadi PNS bekerja di pemerintahan.” Terlalu banyak biaya yang harus ditanggung oleh negara ini hanya untuk membiayai pegawai yang sebegitu banyaknya. Belum lagi para pegawai yang mendapat beasiswa sekolah hingga S3 terlebih yang melanjutkannya ke luar negeri. Biaya ini baru dari biaya beasiswa belum lagi menggaji dan memberi tunjangan para pegawai yang tidak produktif di tiap kantor kepemerintahan. Bahkan kenalan baru saya pun menyadari bahwa setelah dia lulus dia harus memberikan kontribusi yang signifikan bagi negara ini. Saya harap juga begitu. Mudah-mudahan mereka tidak lupa akan hal itu.

Tanpa malu-malu kenalan baru saya ini berkata bahwa dia sering menerima uang senilai kurang lebih Rp 1.000.000 hanya untuk proses tanda tangan. Dengan polosnya dia berkata, “Itukan bukan makan gaji buta, namanya juga berkat, masa mau ditolak!” MENURUT LO? Lu sekarang dapat gaji tanpa bekerja aja udah makan gaji buta. Please!!!

Saya menceritakan hal ini kepada keluarga saya lantas ayah saya memberikan komentar salah satunya berkata demikian, “Ada tiga syarat utama yang seharusnya dipenuhi seseorang saat bekerja di pemerintahan:
1. Jujur
2. Pintar
3. Loyal
namun mayoritas para pegawai kita hanya memiliki 2 dari syarat itu. Apabila dia jujur dan pintar pasti tidak betah bekerja di pemerintahan kita (tidak loyal) dan akhirnya dia memilih untuk keluar dari pekerjaan karena situasi kerja yang sering tidak sesuai dengan idealismenya. Jika dia pintar dan loyal pasti tidak jujur karena kemungkinan semua yang dia lakukan untuk kemakmuran dirinya semata. Kondisi yang ketiga yaitu apabila loyal dan jujur maka dia akan dianggap bodoh.”

Ada benarnya juga sih.

Sunday, October 12, 2008

Anak Menteng Mengubah Amerika

Saya sebagai orang Indonesia merasa malu dan miris setiap kali membaca ungkapan ini. Televisi lebih spesifik saluran televisi swasta yang memaksa saya membaca dan mendengarkan ungkapan tersebut setiap kali mereka memperbincangkan calon presiden Amerika dari kubu Demokrat ini yaitu Barack Obama.
Indonesia, bangsa yang terus mencari eksistensi negeri dengan mengaitkan dirinya dengan nama besar tertentu, padahal bangsa ini tidak turut ambil bagian dalam memperbesar nama tersebut. Apalah arti tinggal kurang lebih 2 tahun di Menteng pada kontribusi berpolitik Barack Obama? Belum lagi saat tinggal di Menteng Barack Obama pun masih berusia sangat muda. Betapa hal ini menurut saya menunjukkan sikap minder Indonesia akan pandangan dunia terhadap dirinya. Inilah bangsa kita, bangsa yang mudah berbangga diri. Bangsa yang belum mampu menciptakan kebanggaannya sendiri sampai harus menumpang ketenaran orang lain.

Wednesday, September 24, 2008

Dimana Kau Kebenaran?

Mungkin banyak orang di dunia saat ini menanyakan hal yang sama dengan apa yang terlebih dahulu telah dipertanyakan oleh Socrates. Tidak ada hal yang baru di bawah langit ini. Apakah bisa dibenarkan apabila seseorang mendapatkan keuntungan dari kesusahan yang dilakukan orang lain? Mendapatkan keuntungan dengan menarik orang sebanyak mungkin menjadi cabang pohon keuntungan. Saya jadi teringat ungkapan yang mengatakan bahwa there is no fast money in the world. Apakah orang-orang dengan idealisme mencari penghidupan dengan cara konvensional pada akhirnya akan punah? Ataukah idealisme mereka harus dilunturkan untuk mendapatkan penghidupan?

Friday, August 29, 2008

Nuklir untuk Kemanusiaan?

Isu rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) telah lama mengundang pro dan kontra dari banyak pihak. Ide pembangunan PLTN sebenarnya telah lama dirancang oleh pemerintah bahkan sejak zaman Presiden Soekarno. Pada masa itu telah ada penelitian yang dilakukan untuk membangun PLTN. Namun pada saat harga minyak dunia melonjak naik, banyak negara-negara di dunia tidak terkecuali Indonesia mulai mencari energi lain selain minyak bumi atau batubara untuk memenuhi kebutuhan energi negara mereka. Lantas nuklir menjadi salah satu alternatif yang dicetuskan oleh pemerintah kita. Rupanya energi terbarukan seperti sinar matahari, angin, dan air yang cukup melimpah di Indonesia belum lagi biomassa dan panas bumi dianggap belum mampu menghasilkan energi dalam jumlah besar. Masalah lingkungan pun sekarang harus dihadapi akibat penggunaan batubara.

PLTN dihasilkan dari reaktor nuklir pengayaan uranium. Untuk memproduksi listrik 2.000 MW, misalnya, hanya dibutuhkan uranium dengan berat sekitar 2 kg, dan dalam siklus penggunaan yang panjang, yaitu 1,5 tahun (Khairul Handono, Bisnis Indonesia). Ektremnya 1 gram uranium dipercaya dapat menyalakan televisi yang kira-kira menghabiskan 100 watt selama 7 tahun. Siapa pula yang mau melihat televisi terus-menerus selama 7 tahun?

Jika melihat kesuksesan negara-negara yang menggunakan PLTN untuk memenuhi kebutuhan energinya seperti Amerika, Jepang, Australia, Korea Selatan bahkan Korea Utara nampaknya Indonesia pun ingin mencoba dan mengalami hal yang sama. Tidak hanya Indonesia yang tergiur akan penggunaan uranium ini tapi juga Cina sudah mulai menggiatkan pembangunan PLTN mereka. Karena selain mendapatkan energi, pemanfaatan reaktor nuklir dimanfaatkan untuk mengurangi udara kotor negara mereka. Batu bara ini pula yang telah mengotori udara di Cina. Pantaslah jika 16 dari 20 kota terpopulasi dunia berada di Cina. Negara ini pun mulai melakukan kerjasama dengan Australia dalam pemenuhan kebutuhan uranium.

Australia merupakan negara penghasil uranium terbesar. Tercatat kontribusi negara benua ini dalam produksi uranium sekitar 40% dari total produksi uranium dunia. Dalam bukunya yang berjudul Asia Future Shock, Michael Backman juga meramalkan bahwa Asia akan menjadi rumah bagi setengah reaktor nuklir dunia. Jadi jika nuklir mulai naik daun maka posisi strategis negara-negara dunia Arab yang menguasai minyak bumi akan berpindah kepada negara-negara penghasil uranium yang notabene mayoritas adalah negara-negara Barat. Sebenarnya Indonesia juga memiliki sumber daya ini namun belum secara total digarap. Jangan sampai uranium ini memiliki nasib yang sama dengan emas kita di Papua.

Selain melihat sisi keberhasilan PLTN, kita juga harus menilik lagi apakah nuklir cocok dengan alam Indonesia. PLTN ini rencananya akan dibangun di Pulau Jawa. Sempat tercetus PLTN akan dibangun di Semenanjung Muria dan daerah Lemahabang. Pulau Jawa merupakan pulau dengan populasi terbanyak di Indonesia yang pastinya membutuhkan energi yang lebih besar daripada pulau lainnya. Namun yang menjadi masalah adalah Pulau Jawa rawan dengan bencana alam seperti gempa bumi yang diyakini dapat menyebabkan radiasi. Kita pasti belum lupa peristiwa kebocoran radioaktif reaktor bertenaga nuklir di pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kashiwasaki-Kariwa akibat gempa bumi berkekuatan 6,8 skala richter. Meskipun mungkin di letakkan di daerah yang jauh dari gunung berapi yang masih aktif sekalipun, perlu diingat bahwa Indonesia merupakan tempat bertemunya 3 lempeng dunia yaitu Indoaustralia, Eurasia dan Pasifik yang sanggup menggoncangkan Indonesia saat mereka bertabrakkan. Biaya pun akan lebih banyak jika PLTN dibangun di luar Pulau Jawa karena harus menyalurkan listrik ke Pulau Jawa.

Walaupun pemerintah Indonesia sudah meyakinkan warga negaranya bahkan proyek pembangunan ini aman namun saya pribadi pun masih ragu Indonesia sudah siap dengan PLTN. Penyelewengan masih akan terjadi. Masalah tidak hanya pada penguasaan teknologi namun kita tahu korupsi (mentally disorder) sudah mendarah daging. Seperti ungkapan Georges Pompidou:
Negarawan adalah politisi yang menempatkan dirinya dalam pelayanan kepada bangsa sedangkan politisi adalah negarawan yang menempatkan bangsa dalam pelayanan kepada dirinya”.
Lewat penjelasan tersebut kita bisa memilih apakah wakil rakyat kita “terhormat” merupakan negarawan atau politisi. Penyelewengan yang sering terjadi salah satunya dapat berupa penggelembungan biaya yang dilakukan namun barang yang didapat kualitasnya berada jauh di bawah biaya yang harus dikeluarkan. Pengoperasian PLTN berkaitan langsung dengan nyawa banyak orang. Pemerintah harus ingat itu!

Korea Utara pun menggunakan PLTN untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Penggunaan PLTN di Korut mungkin juga karena didukung oleh pemerintahan yang otoriter dan militeris. Ternyata pengoperasian reaktor nuklir bagi pemenuhan energi negara ini belum sepenuhnya sukses. Power tends to corrupt but absolute power tends to corrupt absolutely. Itulah yang terjadi di Korut. Jika dilakukan pemindaian pada malam hari akan terlihat perbedaan yang cukup besar antara Korsel yang terang benderang dan Korut tergolong yang gelap jika dibandingkan dengan Korsel. Mungkin hanya kota Pyongyang yang sepenuhnya bisa menikmati malam dengan listrik. Rupanya keberadaan PLTN pun belum mampu memenuhi kebutuhan warga Korut akan listrik.

Masih ada kemungkinan ancaman lain yang bisa saja terjadi yaitu ancaman invasi dari negara yang mengaku adikuasa yang berlaku layaknya polisi dunia menyerang sebuah negara karena alasan pengayaan uranium tersebut digunakan untuk keperluan militer. Apakah Indonesia bisa menyakinkan “polisi dunia” tersebut bahwa tujuan pengayaan uranium ini adalah untuk kemanusiaan? Ataukah alasan reaktor nuklir bagi pemenuhan energi negara ini hanyalah sebuah rekayasa untuk menciptakan ladang baru guna mengeruk uang dan memperkaya segelintir orang yang berkuasa?